Judul
Buku: Menguak Ulah Neokons: Menyingkap Agenda
Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme
Penulis: A. Safril Mubah
Penerbit: Pustaka Pelajar
Tahun:
2007
Jumlah
Halaman: 270
Detik-detik
runtuhnya menara kembar World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001
merupakan saat-saat neraka bagi rakyat Amerika Serikat (AS). Betapa tidak, dua
simbol kedigdayaan AS dalam bidang ekonomi dan pertahanan jebol dan ambruk oleh
suatu serangan mendadak yang nekat. Hanya dalam hitungan jam sesudah peristiwa
tragis tersebut Presiden George W. Bush menabuh genderang perang dengan sasaran
tembak Osama bin Laden yang dituduh sebagai biang kerok.
Seluruh
dunia terperangah. Semua orang menduga akan pecah Perang Dunia III. Bedanya
dengan perang-perang dunia sebelumnya, kali ini AS berdiri sebagai single fighter yang menantang
dunia (baca: negara-negara) yang dianggap tak berpihak pada kebijakan
unilateralnya untuk melakukan preemptive
strike.
Kendati
dunia terperangah, tetapi tak semua memahami “musuh” seperti apa yang dihadapi
oleh AS dan motivasi apa yang melandasi agresivitas AS dalam melakukan serangan-serangan
menghancurkan terhadap negara-negara yang dikuasai oleh rezim otoriter.
A.
Safril Mubah dalam bukunya ini dengan piawai membedah selubung pekat jaringan
pemikir dan kelompok yang disebut neokonservatif. Apa itu neokonservatif?
Istilah neokonservatif pertama kali diperkenalkan oleh Michael Harrington pada
1970-an. Dia mengemukakan bahwa istilah itu menunjuk suatu gerakan eksodus
sekelompok individu yang semula berpaham liberal dan kemudian beralih menuju
paham konservatif. Kelompok ini disebutnya sebagai konservatif baru (new
conservatism) atau neokons.
Dalam
bab 1 dan 2 Mubah menelusuri tumbuhnya embrio neokons yang terkristal dalam
figur Irving Kristol yang dijuluki the
godfather of neoconservatism. Kristol beranggapan bahwa neokons adalah
golongan yang sebelumnya menganut nilai-nilai liberal tetapi merasa tidak
sepaham dengan garis politik yang diambil sebagian besar kelompok liberal
sehingga memutuskan untuk beralih ke konservatif (hlm. 9).
Konservatisme
adalah kepercayaan terhadap nilai-nilai konvensional yang telah mengakar secara
tradisional dalam kehidupan masyarakat. Di AS, nilai konservatif yang mengakar
kuat adalah kebebasan. Namun, tidak selamanya pemikiran konservatisme AS hanya
berkutat pada kebebasan. Itulah yang memunculkan beraneka varian konservatisme
Amerika: classical cons, small
government cons, ideological cons, paleoconservatism dan neoconservatism (hlm. 21).
Prinsip
pemikiran yang ditegakkan oleh neokons banyak berpijak pada pemikiran filsuf
politik Chicago University yang merupakan imigran Yahudi dari Jerman, Leo
Strauss (1899-1973) dan Leon Trotsky (1879-1940), ilmuwan sosialis Uni Sovyet
penganut Yahudi yang memiliki peran penting dalam Revolusi Bolsheviks pada
1917. Letak kesamaan trotskyisme dengan neokonservatisme memang bukan pada
pahamnya, tetapi pada gagasan untuk menyebarkan paham mereka ke seluruh dunia.
Impian Trotsky tentang revolusi sosialis dunia diadopsi oleh neokonservatif
untuk menyebarkan kapitalisme demokratik ke seluruh dunia. Jadi, ada semacam
pembalikan ide dari sosialis ke demokrasi (inverted trotskyism) yang bertujuan mengekspor demokrasi dalam
cara yang sama bahwa trotskyist pada dasarnya mengekspor sosialisme.
Bab
3 sampai bab 5, Mubah menggambarkan dengan cermat bagaimana dari neokons
bermetamorfosis dari gerakan pemikiran menjadi sebuah gerakan politik dengan
ambisi menancapkan pengaruh AS ke seluruh dunia. Perjuangan kaum neokons
bukannya tanpa hambatan. Dinamika kepemimpinan politik AS yang digambarkan oleh
Mubah menunjukkan bahwa meski hubungan mereka tidak selamanya mulus dengan
penguasa AS, tetapi fakta memperlihatkan bahwa kaum neokons tidak pernah jauh
dari orbit kekuasaan politik AS. Jaringan neokons sudah menggurita di seluruh
sektor pengambilan keputusan politik penting di AS. Bahkan mencapai puncaknya
pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, yang sudah benar-benar
dikendalikan oleh ideologi neokons.
Buku
ini menjadi suatu bacaan yang kritis dan menarik bagi setiap orang yang ingin
mengetahui kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang arogan, serta perselingkuhan
AS dengan Israel yang sebenarnya dilandasi oleh suatu motivasi menguasai dunia
dalam genggamannya. Motivasi tersebut diimplementasikan dalam tindakan-tindakan
militer yang agresif tanpa mengindahkan eksistensi negara-negara lain, termasuk
PBB. Pelajaran berharga dari buku ini tidak hanya bersifat informatif mengenai
sepak-terjang AS yang dikontrol oleh kaum neokons, tetapi juga kritik-diri
apakah proses berdemokrasi kita di Indonesia hanya akan diserahkan pada
arogansi kelompok-kelompok tertentu yang merasa diri dominan, lantas merasa
berhak mengatur bangsa ini secara otoriter. Kita ingin menjadi Indonesia yang
bukan seperti AS. Kita ingin menjadi Indonesia yang menghargai pluralitas tanpa
serentak menggilas perbedaan atas nama mayoritas. Di situlah letak pelajaran
berharga buku ini sebagai pembelajaran berdemokrasi yang matang, yang tumbuh
dari dialektika sosiologis dan kultural Indonesia itu sendiri.
Download ebook Menguak Ulah Neokons pdf via Google Drive:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar