Judul Buku: Menggali Rahasia Doa Nabi
Khidr
Penulis: Allamah Husain Mazhahiri
Penerbit:
Cahaya
Tahun:
2003
Jumlah
Halaman: 363
Adakalanya,
kita tak tahu apa yang harus kita ucapkan kata berdoa. Minimnya kosakata,
banyaknya hal yang harus diminta, khayalan yang terbang tak tentu arah, tak
terumuskannya keinginan dan harapan, serta ketidakmengertian kita akan diri
kita sendiri―apalagi Tuhan―menjadikan lidah kita kelu ketika kita “harus”
berdoa. Jadilah kemudian doa kita seperti ucapan seorang dukun yang sedang
membaca mantra, yang mengejar target selesainya pembacaan jampi-jampi agar
tepat memperoleh uang.
Padahal,
kalau kita pikir, berdoa adalah kebutuhan keseharian kita. Dengan berdoa, kita
percaya akan mampu mengbadapi kehidupan ini dengan hati lapang dan pikiran
benderang. Kita yakin bahwa dibalik keruwetan hidup yang menghimpit, masih ada
kekuatan lain yang mampu mengurai kusutnya benang kehidupan kita. Dengan
berdoa, kita percaya kekuatan tersebut akan menjelma dalam diri kita, sehingga
kita berani menghadapi apapun dengan kepala tegak. Dengan demikian, gagalnya
kita dalam berdoa (tepatnya, sedikit atau hampanya pengaruh doa bagi kehidupan
kita), menjadikan kita loyo, muram, pesimis, dan tega menyerahkan hidup kita
kepada altar ketentuan “nasib”.
Dalam
pada itu, kalau ditilik lebih jauh, berdoa memerlukan pemahaman akan apa
sebenarnya yang baik bagi hidup dan kehidupan kita. Jadi, bukan apa yang
menyenangkan kita. Sebab, adakalanya, minum obat, operasi, bahkan boleh jadi
amputasi sebagian anggota tubuh adalah baik bagi kita, meskipun sudah pasti itu
tidak menyenangkan. Karena itu, yang terbaik―bahkan merupakan puncak ketinggian
makna dalam berdoa―adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa akan apa
yang terbaik bagi kita. Dengan begitu, kita mengandalkan Yang Mahamampu atas
apa saja yang terjadi di dunia ini, bukan mengandalkan diri kita.
Tentu
saja, untuk sampai pada titik “penyerahan” total seperti itu diperlukan
pengenalan yang puma dan cinta yang suci kepada Yang Mendengarkan doa, bahkan
harus “lebur” bersama-Nya. Pada titik ini, menjadi mustahil bagi kita untuk
berdoa. Sebab, hanya kekasih-kekasih-Nya (seperti Rasulullah saw, Ahlul Bait,
dan orang-orang terpilih saja) yang mampu berdoa secara demikian. Bagi kita
paling tidak, kita dapat mengambil “berkah” dari kata-kata yang mereka ucapkan.
Sebab, Zat yang Mahamengabulkan doa telah memerintahkan dan mengajari kita
untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.
Benar,
al-Quran, Rasulullah saw dan keluarga pilihannya, seperti yang mengajarkan doa
ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, telah mendidik kita―melalui murid
pilihannya, pengemban amanat doa ini, Kumayl Ibn Ziyad―tentang bagi mana cara
yang tepat dalam berdoa. Juga, penu1is buku ini Allamah Husain Mazhahiri,
seorang guru akhlak terkemuka, dengan penuh ketekunan telah berusaha mengupas
doa yang diajarkan Imam Ali kepada muridnya ini. Semuanya beliau lakukan,
tentunya, agar kita mampu menggali rahasia yang terkandung dalam gunung hikmah
doa nan kemilau ini.
Download ebook Menggali Rahasia Doa
Nabi Khidr pdf via Google Drive:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar