Judul
Buku: Membaca Sastra, Membaca Kehidupan
Penerbit:
Penerbit Hikayat
Penulis: Tirto Suwondo
Tahun:
2011
Jumlah
Halaman: 180
Kata para cerdik-pandai, pada hakikatnya, sastra
--yang lebih berurusan dengan masalah keindahan (dan kebaikan atau kebenaran)-- merupakan “pertunjukan
dalam kata-kata”. Dengan pertunjukan ini, sastra memiliki kekuatan menghibur.
Dengan adanya kata-kata yang menjadi komponen pentingnya, sastra juga memiliki
potensi mengajar. Pengajaran tidak mungkin berlangsung tanpa kata-kata meskipun
pendidikan lebih efektif disampaikan melalui tindakan. Selain itu, sastra pada hakikatnya juga merupakan “dunia dalam kata-kata”.
Cerita yang bagus, pengalaman yang menggetarkan nurani, rintihan jiwa yang
menimbulkan rasa belas, semuanya terungkap dalam kata-kata (bahasa). Kekuatan
bahasa-lah yang menjadikan sastra sebagai “dunia dalam kata”.
Dalam kaitan dengan itu, sastra juga merupakan seni berbahasa. Sebagai
seni, sastra menempatkan bahasa sebagai alat dan sekaligus sebagai bahan. Sebagai alat, bahasa berfungsi menyampaikan gagasan
(ide), sedangkan sebagai bahan, bahasa berfungsi menghibur. Itulah sebabnya,
berbicara tentang hakikat sastra, secara tak langsung sebenarnya telah
menyinggung masalah fungsi sastra. Fungsi yang dimaksud adalah menghibur dan
mengajarkan sesuatu. Kata para filosof, salah satunya Horace, fungsi sastra
adalah menyenangkan dan berguna (dulce
et utile) bagi hidup.
Mengingat betapa penting hakikat dan fungsi sastra, betapa penting pula
kita (manusia) membaca karya sastra. Sebab, dengan membaca sastra, berarti kita
membaca sekaligus memahami kehidupan. Dengan memahami kehidupan, kita akan
dapat memilih atau mengambil sikap (baik/buruk) dalam menghadapi kehidupan itu.
Karena karya sastra mengandung sesuatu yang bermakna, yang oleh para ahli
disebut moral, atau nilai, perlulah kita menempatkan sastra sebagai sesuatu
yang berharga. Untuk itu, marilah, mulai saat ini, kita berusaha membaca
sastra, mengapresiasi sastra, mengakrabi sastra, dan yang tidak kalah penting,
mengajarkan (kepada siapa pun) membaca sastra. Sebab, dari sastra, kita tidak
hanya akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman, tapi juga akan mampu
menyikapi dan menilai kekuatan dan kelemahan kita.
Membaca, mengapresiasi, dan sekaligus mengakrabi sastra itu berlangsung
sebagai sebuah proses atau kegiatan yang mencakupi: memahami, menikmati, dan menghayati. Tiga kegiatan tersebut
berlangsung serempak dan tanpa ada pemisahan yang tegas. Hanya saja, kalau kita
harus mengambil langkah, tiga hal tersebut merupakan suatu proses
berkelanjutan. Memahami, sebagai sebuah proses awal, berarti memahami bahasa
karya sastra. Sebab, pertama-tama, bahasa-lah yang kita hadapi. Penguasaan atas
bahasa teks sastra merupakan modal utama untuk memasuki lebih jauh dunia dalam
kata-kata. Tanpa penguasaan bahasa, tidak mungkin kita mengapresiasi sastra.
Pemahaman struktur puisi (irama, bunyi, gaya, kosakata, kalimat, dll.),
misalnya, atau struktur prosa (tokoh, alur, latar, gaya, dll.), juga hanya
dapat dilakukan melalui bahasa. Maka, sampai di sini, mau tak mau, kita harus
juga belajar bahasa.
Menikmati merupakan proses lanjut dari memahami. Artinya, setelah memahami
struktur lewat bahasa (teks sastra), konsep-konsep abstrak yang ada di dalam
teks sastra lebih dikonkretkan. Karena itu, penikmatan puisi, misalnya,
menyangkut timbulnya rasa senang atau sedih. Katakanlah, kita merasa senang
setelah “mendengarkan” bunyi-bunyi atau irama dalam teks karena bunyi atau
irama itu membawa gambaran angan (imaji) yang jelas dan hidup. Untuk prosa,
misalnya, kita mungkin akan merasa senang setelah membayangkan jalinan
peristiwa (alur) cerita yang penuh ketegangan. Kita juga akan merasa senang
setelah membayangkan pertemuan dua tokoh yang terlibat dalam percintaan atau
berseteru memperebutkan sesuatu yang bermakna dalam hidup.
Sebagai proses lanjut, menghayati berkaitan dengan penemuan nilai-nilai
(moral) hidup yang berguna dan bermanfaat bagi upaya memperluas wawasan,
mempertajam pikiran, dan menghaluskan budi (dan hati nurani). Pada tahap
penghayatan itulah yang menjadikan sebuah karya sastra dinyatakan bermanfaat
atau tidak. Yang diharapkan akan diperoleh dari penghayatan sastra itu bisa
saja berupa informasi kesejarahan, keilmuan, atau pesan dan ajaran (moral,
sosial, religius, dll). Dan beragam informasi inilah yang, pada akhirnya, akan
membawa kita pada proses seleksi dan evaluasi terhadap hidup kita.
Maka, akhirnya, sekali lagi, marilah, mulai hari ini kita (semua) membaca,
menikmati, menghayati, dan mengajarkan (mendidik) kepada siapa saja untuk
membaca, menikmati, dan menghayati karya sastra. Sebab, pada hakikatnya,
membaca sastra tidak lain adalah membaca kehidupan. Membaca kehidupan tidak
lain adalah mengevaluasi hidup kita. Dengan mengevaluasi hidup kita berarti
kita akan tahu apakah hidup kita ini berarti atau tidak. Nah, dengan mambaca
sastra mudah-mudahan hidup kita menjadi (lebih) berarti.
Download ebook Membaca Sastra, Membaca Kehidupan pdf via Google Drive:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar